//
you're reading...

NeuroLeadership

NELA_NEURO-LEADERSHIP ACTIVATION

MENGAPA

Disebut NeuroLeadership karena merupakan perpaduan interdisplin bidang ilmu sifat-sifat neuron otak berkaitan dengan praktek-praktek pada Kepemimpinan dan Manajemen. Menunjukkan interkoneksi/interface dari berbagai aplikasi pada kognitif social, afektif , kognitif dan integrative neuroscience dengan praktek dan teori Kepemimpinan dan Management social science.

 

PEMAHAMAN UMUM TENTANG BRAIN

1. Membangun kesadaran bahwa pikiran, perilaku dan kinerja otak merupakan satu kesatuan yang utuh
Bahwa riset neurosains terkini melaporkan bahwa ada hubungan yang sangat erat antara perilaku dan otak manusia. Dengan menggunakan alat pencitraan PET di dapatkan sedikitnya ada 5 area besar otak yang berhubungan dengan perilaku manusia: PFC, Girus Cingulat, Basal Ganglia, Sistem Limbik dan Lobus Temporalis.

2. Otak nomal dan otak sehat
Otak yang sehat (bukan sekedar otak yang normal) dapat “menghasilkan” cara berpikir yang baik dan cara berpikir yang baik dapat “menghasilkan” perilaku yang baik. Dan perilaku yang baik dapat menyehatkan otak (otak sehat).

NeuroLeadership solution bisa membantu mengembangkan kapasitas kelenturan cortex bagi para Leaders menghadapi VUCA. Dengan kemampuan mengkalibrasi mental effort menjadi lebih efisien dan selaras dengan basic principles of the Brain mampu memunculkan Resilien, Inovasi, Kolaborasi dan Perubahan yang dibutuhkan to Thrive in the Midst of VUCA. Dengan mengenali aktivitas PFC maka kita bisa menaksirkan apakah dopamin turun atau naik atau normal.

Apa pentingnya hal ini bagi Pemimpin? Puasa bagus untuk otak (brain): menstimulasi neurotransmitter bernama neurotropic yang memicu pertumbuhan neuron dan synaptic-synaptic baru

 

BAGAIMANA NEUROSCIENCE BISA MEMBANTU

Salah satu terapan NeuroLeadership pada Milenial adalah membangun karakter resilient dan collaboration berbasis terapan neuroscience. Milenial adalah generasi cerdas dan instan serta memiliki energi yang tinggi. Namun bila tidak disertai dengan brain yang sehat maka limbik akan sering mengambil alih potensi kekuatan tersebut. Pada akhirnya bukan menciptakan sinergi dan engagement namun menciptakan kegaduhan dan konflik dengan generasi sebelumnya. Sangatlah disayangkan. NeuroLeadership menjadi complementary dari setiap generasi untuk menciptakan terobosan berkelanjutan yang bernilai tambah tinggi.

 

NILAI TAMBAH NEUROLEADERSHIP

Dengan pendekatan neuroscience kita bisa memahami perilaku leader dari hard aspect yaitu otak. Otak lebih mudah dipahami karena bersifat fisik, kita bisa merasakan otak kita secara langsung. Yang menarik, dibalik kompleksitasnya ternyata otak memiliki mekanisme otak yang sederhana, dimana kalau kita paham mekanisme dasarnyanya, kita bisa secara cepat menjinakkan ledakan-ledakan emosi yang berasal dari sistem limbik. Dan ternyata bisa membuat tularan emosi positif yang cepat di lingkungan kita sehingga lebih mudah dan cepat menciptakan kolaborasi, engagement dan perubahan.

Kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi dan memfasilitasi perubahan. Berbasis ilmu terapan neuroscience terkini, program ini telah banyak memberikan pencerahan dan peningkatan kualitas kepemimpinan secara signifikan.

Agar bukan sekedar bertahan bahkan menyerang di era VUCA ini, maka model SDM perusahaan harus berpola pikiran tenang, cepat, lincah, kreatif – analitik, flexibel/adaptif, dan simple.

 

KONTAK PERSON/ INFORMASI Workshop

WA : 0821-3645-7526

Discussion

No comments yet.

Post a Comment