//
you're reading...

NeuroBranding

BRANDS IN THE BRAIN

Beberapa tahun yang lalu, ketika ada orang bertanya tentang pasta gigi maka jawabnya pepsoden. Ketika bertanya tentang teh botol maka jawabnya the botol sosro. Bahkan ada beberapa nama produk telah menjadi nama kategori umum seperti Honda, Aqua dan beberapa nama produk lainnya. Kok bisa, ya ?

Bagaimana terjadinya sebuah iklan televisi dapat mempengaruhi pikiran dan emosi bagi para pemirsa? Sementara pikiran dan emosi dijalankan oleh otak manusia. Klu demikian, bagaimana hubungan antara otak manusia dengan seluruh aktivitas pikiran dan emosi manusia termasuk ketika seseorang memikirkan atau memutuskan pilihan pada sebuah brand tertentu ?
Bagaimana sebuah tulisan di “billboard” , kecepatan intonasi suara dan aksen pembicaraan dapat mempengaruhi terhadap keputusan aktivitas pembelian? Bagaimana bisa terjadi sebuah produk berhubungan secara emosi dengan produk yang tidak sejenis, seperti Rokok Malboro dengan Seorang Koboi?

Dari semua pertanyaan di atas, ada pertanyaan-pertanyaan yang sering mengganggu para marketer.
Pertama, bagaimana sebuah brand memiliki hubungan dengan pikiran dan emosi manusia yang ada dalam otak manusia?
Kedua, unsur apa saja yang terjadi dalam otak manusia ketika sebuah brand melakukan aktivasi ?
Ketiga, bagaimana “perilaku” otak manusia merespon setiap proses aktivasi brand ?.

Tiga pertanyaan utama inilah yang akan menjadi bahan dasar pembahasan dalam tema “Brand In The Brain”.

“Brand dan Brain (Otak manusia)” memiliki hubungan yang sangat erat. Persinggungan hubungan yang erat tersebut terletak pada konten PERILAKU konsumen. Setiap brand yang baik akan menggerakkan konsumen untuk tertarik pada produk tersebut, bisa melihat, mendengar, meraba atau berperilaku lainnya_untuk mendapatkan informasi atas produk tersebut. Dan akhirnya membelinya.

Proses tatanan perilaku konsumen yang di stimulasi oleh “daya pikat” sebuah brand telah diatur di dalam struktur dan fungsi otak manusia. Dalam bab “Brand dan Otak Manusia”, akan lebih menekankan pada informasi mengenai struktur dan fungsi otak yang berkaitan dengan sebuah brand.

Otak manusia memiliki daerah bernama Kulit Otak atau Neocortex atau Cortex Cerebri. Kulit otak manusia terdesain sangat sempurna dan paling sempurna diantara makluk hidup lainnya. Dengan kulit otaknya, manusia bisa berpikir dan berkomunikasi dengan bahasa yang indah. Di daerah inilah jugalah proses “brand activation” berlangsung dengan sempurna. Setiap konsumen yang tersasar oleh “brand activation” akan teraktifkan kulit otaknya, mengelolah data dan informasi yang masuk dan melibatkan seluruh sistem otak lainnya hingga mereka bisa memilih dan mengambil keputusan untuk pembelian sebuah brand. Ia adalah Cortex PreFrontal (CPF) bagian kulit otak yang memiliki fungsi penting ketika konsumen merencanakan, menilai , memilih dan mengambil keputusan atas pilihannya. Kecukupan informasi sebuah “brand activation” akan mempengaruhi otak CPF bekerja.

Kulit otak juga memiliki fungsi untuk mengelola seluruh persepsi dan menyatupadukan (asosiasi) dari stimulan yang datangnya dari saraf-saraf sensorik (panca indera), daerah ini disebut Cortex Perseptif ( korteks persepsi) Primer dan Sekunder. Korteks persepsi mengolah stimulan dari indera penciuman, penglihatan, pendengaran, rasa dan taktil menjadi sesuatu yang bisa di maknai.

Kemampuan indera penglihatan (cortex visual primer) yang mampu menangkap rangsangan secara cepat dapat dimanfaatkan untuk memenangkan “perebutan” perhatian atas pesan sebuah brand. Memanjakan pembeli dengan lagu-lagu kenangan indahnya adalah strategi marketing yang mengaktivasi indera pendengaran (cortex auditory primer). Menjajakan produk dengan membiarkan aroma khas produk tersebut “menggoda” pembeli adalah startegi neuromarketing yang amat jitu dengan mengaktivasi daerah otak yang bernama indera penghidu (cortex reseptif olfactory primer). Demikian juga indera-indera lainnya,… semuanya dapat di jadikan sarana untuk mengembangkan startegi marketing menjadi lebih power lagi.

Penelitian terkini di bidang neurosains menemukan sejumlah bukti tentang hubungan yang sangat erat sekali antara otak dan perilaku manusia. Dengan menggunakan intrumen pemindai otak yang bernama Positron Emission Tomography (PET) dibuktikan bahwa sedikitnya ada tujuh sistem otak yang secara bersama-sama dan terpadu meregulasi semua perilaku manusia termasuk pengaturan kognisi, emosi, sistem sensorik dan motorik yang menghasilkan sikap dan perilaku Customer memilih sebuah merek produk. Ketujuh sistem otak tersebut meliputi cortex prefrontal (cpf), girus cinguli, sistem limbik, ganglia basalis, lobus temporalis, korteks insula dan cerebelum.

Selama beberapa dekade terakhir penggabungan pemasaran dengan neuroscience telah menarik perhatian baik dari dunia akademis dan perusahaan. Neuromarketing memungkinkan pemasar dan peneliti untuk lebih memahami apa yang konsumen bereaksi dan bagaimana intens reaksi mereka. Yang membuatnya lebih menarik adalah bahwa pertanyaan-pertanyaan ini dapat dijawab tanpa perlu secara eksplisit meminta konsumen untuk menyatakan pendapat mereka. Neuromarketing mampu mengumpulkan jawaban seseorang terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti apakah warna, bentuk atau bau produk tertentu menjadi titik fokus ketika konsumen memutuskan pilihan produknya. Meskipun dalam masa pertumbuhan, bidang baru ini telah memiliki dampak yang besar dalam perjalanan banyak bisnis termasuk marketing.

Upaya membangun sebuah Branding merupakan akumulasi dari kinerja seluruh bagian otak dengan spesifikasinya masing-masing dan merupakan produk dari interkoneksi dan interdependensi bagian-bagian otak tersebut.

Amir Zuhdi
Dokter / Penggagas NeuroscinceForLife
#NeuroBranding
#NeuroLeadership
#NeuroParenting
#NeuroTeaching

Discussion

No comments yet.

Post a Comment