//
you're reading...

NeuroBranding

Strategi Branding Dari Lubang Hidung

Pengalaman yang sangat menarik, saya alami beberapa bulan yang lalu ketika seorang sahabat mengajak jalan-jalan di daerah Jakarta Utara, tepatnya di daerah Pasar Cilincing. Tanpa saya sadari ternyata pikiran saya semakin fokus dengan aroma masakan soto yang sangat menggoda. Mengapa demikian? Ya, aroma soto ini “menerbangkan” pikiran saya ke suasana 40 tahun yang lalu. Saat saya berusia 7 tahun dan memiliki langganan soto kesukaan saya. Empat puluh tahun yang lalu, ada semacam “ritual” bila ibu saya sudah gajian (sebagai seorang guru), saya di ajak (hampir selalu) makan soto di pasar Ngawi. Anda tahu, bahwa aromanya, juga rasanya, soto di pasar cilincing ini persis dengan soto di pasar Ngawi (40 tahun yang lalu), Nah!. Saya pun menikmatinya,…sambil melayangkan pikiran saya ke suasana 40 tahun yang lalu. Tidak cukup sampai disini, saya pun rela merekomendasikan ke sahabat-sahabat saya untuk mencoba mencicipi soto pasar Cilincing yang lezat itu.

Sahabat saya memiliki juga pengalaman yang lain, dia paling “tajam” mengenali bau parfum istrinya. Suatu ketika saat kami di Mall Mantos Manado, tiba-tiba dia “dikagetkan” dengan bau parfum dari istinya, dia mengatakan bahwa istrinya sudah dekat di sini. Dan benar aja, tanpa sepengetahuannya sang istri telah berada di dekatnya.

Tiap manusia memiliki kemampuan menggunakan indera penghidunya yang terletak dari lubang hidung sampai di otaknya, walaupun tingkat kemampuannya berbeda-beda. Seorang yang ahli cengkeh akan bisa membedakan mana cengkeh yang berkwalitas tinggi dan mana cengkeh yang berkwalitas rendah. Dengan parfumnya, seseorang bisa kita kenali, dengan aromanya sebuah deterjen bisa ketahuan jenis mereknya. Seseorang juga dapat mengenali aroma ban mobil baru. Dan bahkan, aroma dapat digunakan untuk membangun rasa damai dan penyembuhan_Aroma terapi.

Aroma Yang Memikat

Aroma sebuah produk menjadi pengikat (brand association) dan memudahkan produk tersebut mendapatkan ciri khasnya. Melalui aromanya, sebuah produk dapat di promosikan dengan lebih baik, seperti halnya warna, desain bentuk yang amat menggoda. Beberapa merek terkenal seperti seperti merek roti (Bread Talk , roti Boy) memasak roti langsung di dalam took. Mereka menonjolkan aroma khas roti yang di tawarkan.

Aroma terapi (yaitu penggunaan aroma untuk penyembuhan dan melepas stress, sakit serta membangkitkan kepuasan spiritual) yang semakin lama semakin popular di masyarakat. Bahkan di kabarkan ada produk lilin omset penjualannya semakin bulan semakin meningkat dikarenakan lilinnya beraroma. Riset Aroma, Susan C. Knasko yang juga rekan peneliti senior dari Monell Chemical Sense Center, menemukan bahwa “konsumen akan lebih betah pada dua area dalam toko jika area tersebut beraroma menyenangkan, dibandingkan dengan area yang tidak beraroma”. Fakta ilmiah ini membuktikan bahwa aroma yang harum dan menyenangkan menjadi salah satu aspek dari lingkungan fisik yang dapat membuat orang merasa nyaman dan bahagia.

Dalam penelitian yang sama, si peneliti juga menemukan bahwa para pembeli yang menghirup aroma yang menyenangkan seperti parfum, kopi, kue , tidak hanya memiliki suasana hati yang lebih baik , mereka juga menampilkan perilaku yang ramah dan menyenangkan. Aroma yang direncanakan dengan baik akan meningkatkan pelayanan, menguatkan merek dan ujung-ujungnya meningkatkan penjualan.

NeuroscienceForLife Insight,

Indra penciuman yang terbentang dari lubang hidung sampai di sistem saraf otak. Penciuman merupakan indra yang paling kuat untuk membangun pengalaman emosi. Namun, indra yang satu ini sering di lupakan dalam mendesain branding sebuah produk. Berbagai riset telah menunjukkan bahwa aroma memiliki potensi emosi yang lebih baik dari pada indra yang lainnya. Area otak yang bertanggungjawab terhadap proses penciuman bernama cortex reseptif olfactory primer. Otak penciuman berada dalam wilayah kulit otak di bagian Unkus Otak (broadman 2) pada area inti-inti periamygdaloid dan prepiriformis. Dalam berbagai penelitian, aroma memiliki potensi membangkitkan emosi. Hal ini dimungkinkan karena inti periamygdaloid memiliki hubungan yang erat antara wilayah penciuman (olfactory) dengan amygdala (bagian otak yang bertanggungjawab terhadap memori emosi) dan hippocampus (bagian otak yang bertanggungjawab terhadap memori kognisi).

Aroma tidak disaring keluar oleh otak, kerja aroma langsung di dalam otak. Langsung mengaktifkan sistem limbik (khususnya amigdala-hippocampus) dan bekerjalah pikiran insting dan spontanitas. Kalau seperti ini, dimanakah anda menginginkan konsumen anda berada? Disebuah toko swalayan yang nyaman dan menikmati proses belanja, di kantor yang penuh dengan produktivitas atau bahkan di kamar tidur yang penuh romantis. Di manapun lokasi anda, semakin kaya rangsangan lingkungannya akan semakin baik dan aroma sudah seharusnya merupakan bagian yang sangat penting rencana menghebatkan branding anda.

Bagaimana menurut anda?

SalamOS
dr.AmirZuhdi
NeuroBranding Specialist
Penggagas NeuroscienceForLife

Ingin ngobrol dengan saya, follow di twitter @amirzuhdi

Discussion

No comments yet.

Post a Comment